Kereta: trial for the 1st time

Stasiun Cikini 17.59 …

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/e9f/82185840/files/2015/01/img_2839.jpg

Tahun ini saya memulai sebuah rute atau alternatif “baru” untuk pulang dari kantor yaitu menggunakan kereta.

Sebenarnya moda transportasi ini bukan “barang baru” bagi penduduk Di daerah pinggiran Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, dll atau lebih dikenal dengan komuter.

Kereta adalah penyambung nyawa bagi para mereka dalam mencari nafkah di tengah sulitnya transportasi penghubung yang kurang memadai dan jangan lupakan kemacetan Jakarta yang tersohor itu.

Saya kali ini mencoba berangkat dari stasiun Cikini yang berjarak tempuh 15 menit dari kantor saya di bilangan Matraman. Awalnya sempat bingung mencari tempat masuk dikarenakan saya turun di tempat parkir mobil dan dari sana saya harus memutar ke belakang, berjalan sekitar 8 menit hingga akhirnya sampai.

Saya cukup terkesan dengan pengalaman baru ini. Melihat banyak sekali makanan pinggiran, Universitas Bung Karno, dan tentu bagian belakang Universitas Indonesia jurusan mikrobiologi dan kedokteran.

Ah.. Mungkin saya kurang bergerak cepat. Ternyata saya terlambat sekitar 5-10 detik dan kereta jurusan Jakarta Kota pun sudah berangkat… Saya sempatkan sembari menunggu kereta menuju Jakarta Kota untuk menuliskan pengalaman ini.

Membaca hal ini sebenarnya tidak ada yang spesial. Cerita biasa dari warga Jakarta yang pulang ke rumah. Namun saya mencatat beberapa pembelajaran penting:

1. Untuk menuju Jakarta Kota, ambilah dari sisi sebelah kiri yaitu peron 1

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/e9f/82185840/files/2015/01/img_2840.jpg

2. Sesekali cobalah rute lain untuk pergi atau pulang. Selain bisa menilai efektivitas, ada “warna” lain dalam hidup keseharian kita yang cenderung monoton.

3. Kalau ada kesempatan pulang ke rumah lebih cepat, nyaman dengan cost yang mungkin sedikit lebih mahal, ambilah karena waktu itu sungguh mahal.

4. Simpan energi yang biasa dipakai menunggu, berdesakan di bus untuk hal yang lebih produktif seperti menulis atau mengejar mimpi yang tak sempat kita kejar karena waktu kita sudah habis mengejar bus di jalan atau menunggu bus di halte.

5. Tidak ada yang berani ambil jalur kereta karena taruhannya besar yaitu nyawa. Itulah sebabnya mungkin kereta itu adalah “jalur bebas hambatan sejati”. Tahukah kamu artinya apa? Ucapkan selamat tinggal pada angkutan umum yang suka melawan arah yang menyebabkan kemacetan atau mobil pribadi yang masuk ke jalur yang tidak semestinya.

6. Informasi sepertinya kurang jelas diberikan kepada penumpang sehingga berkali-kali penumpang di setiap stasiun harus bertanya ini menuju kemana. Hal ini masih harus dibenahi di setiap moda transportasi Jakarta.

7. Saya bertanya-tanya kemana saja saya dari dulu? Kenapa tidak naik kereta? 🙂

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/e9f/82185840/files/2015/01/img_2842-1.jpg

Stasiun Jakarta Kota 18.14 ,

— E —

Iklan

2 pemikiran pada “Kereta: trial for the 1st time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s