Worrier atau Warrior?

Birthday Cake

Usia saya tahun ini menginjak 27 tahun… Sejujurnya agak-agak “seram” melihat angka menuju kepala 3, meskipun “masih” 3 tahun lagi (jika Tuhan mengizinkan). Ada berbagai kekhawatiran sebenarnya yang perlu-perlu-tidak. Tidak perlu karena biar bagaimanapun ada Tuhan yang berkuasa mengatur hari esok… 🙂

Kami (Tuhan dan saya) sudah sepakat di akhir tahun 2014 lalu bahwa masa depan hanya Ia yang tahu dan hari-hari ke depan, Ia yang mengatur dan memelihara. Bagian saya adalah menghidupi hari demi hari dengan sebaik mungkin dan bertanggung jawab karena kelak Ia akan meminta pertanggungjawaban dari saya untuk XX tahun yang ia sediakan.

Tapi.. Perlu-perlu juga hal-hal yang harus “dipikirkan” (saya ganti deh kata kekhawatiran dengan kepikiran) misalnya:

  • Dalam 5 tahun ke depan, apa sih hal yang hendak dicapai?
  • Ada ngga sih mimpi yang hendak diwujudkan selagi muda?
  • Kapan saya mau “membakar kapal-kapal aman” agar saya bisa berani mewujudkan hal yang sudah lama saya koar-koarkan yaitu menjadi penulis buku?
  • Apakah nanti saya akan jadi penulis buku atau menjadi yang lain, misalnya buka katering :p
  • Nanti misalnya kalau sudah berkeluarga, apakah karir saya hanya akan di rumah atau ada hal lain yang bisa dikerjakan?
  • Bagaimana dengan mimpi mau sekolah lagi yang bahkan belum tahu mau ambil jurusan apa? (Sebenarnya uda ada beberapa kandidat jurusan sih, tapi yah masih ngga yakin itu panggilan atau bukan >,<)
  • Sebenarnya, Tuhan mau saya jadi apa sih?

Ibaratnya kekhawatiran saya sangat menggunung, dan Tuhan yang mendengar saya berceloteh mungkin sembari menyeruput teh dengan santai lalu menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum..

Setiap orang yang sedang berusaha meniti karir namun masih memiliki keraguan akan panggilan hidupnya, sedikit banyak akan mengalami hal yang saya alami. Di tengah dunia kompetitif seperti ini, aneh sekali bila saya tidak punya mimpi atau goal yang hendak dicapai..

Saya suka sekali ditanya 5 tahun lagi mau jadi apa?  Rencana kamu 10 tahun lagi apa? Jujur saja, apa saya yang kurang berambisi atau saya ini terlalu santai atau memang saya tidak belum ketemu jawabannya dan saat ini saya sedang dalam proses menemukan jawabannya. Dan hal-hal inilah yang membuat kekhwatiran saya menjadi-jadi, di kala yang lain sibuk meniti jenjang karir tinggi disertai dengan ambisi menjadi A B C… Saya saja sampai sekarang belum ada goal dalam 5 tahun ke depan. Bagaimana orang dengan ambisi yang “minim” bisa survive di tengah lautan orang-orang yang memiliki aspirasi tinggi… Lebih mudah memang menjadi worrier ketimbang warrior 🙂

Warrior…

Seseorang yang dengan berani menatap masa depan yang tidak kelihatan tapi percaya bahwa Tuhan akan memelihara

Seseorang yang mengerti bahwa ada banyak yang hal yang tidak bisa ia kerjakan sendiri dalam 1 waktu, tapi dengan rendah hati belajar dari orang-orang lain dan menerima pertolongan mereka

Seseorang yang tidak pernah lelah mencari tahu apa rencana Tuhan baginya di “medan perang”

Seseorang yang selalu memimpikan hal-hal yang membuat hidup orang lain lebih berarti dan berani membayar harga untuk mewujudkannya.

Seseorang yang bila Tuhan meminta pertanggungjawaban untuk hidup yang diberikan, ia sudah siap

Semoga saya bisa berubah dari worrier menjadi warrior.. Amin 🙂

Every Good Endeavour

Seputaran Jakarta Barat 22:10 …

— E —

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s