Dicari: Keheningan!

Jakarta, 22 Januari 2015

07.302015/01/img_3152-1.jpgPagi ini, cuaca mendung dan hujan rintik yang awalnya begitu meneduhkan berganti menjadi hujan deras dan lebat yang bergemurug menyelimuti suasana Jakarta khususnya bagian Utara dan Selatan.

Namun di pagi yang sama pula, saya merasakan suasana yang begitu hening dan tenang dalam kereta.

2015/01/img_3148-0.jpg

Saya sangat beruntung karena saya berangkat dari daerah barat ke selatan sehingga kereta juga cenderung sepi karena keramaian terjadi di arah yang berlawanan. Dan di tengah keheningan kereta, saya bisa “mengistirahatkan” jiwa saya. Maklum saja, saya hidup di kota yang begitu bising, ribut dan ramai.
Keemacetan jalan, bunyi klakson mobil dan motor, keruwetan lalu lintas, bunyi bbm atau whatsapp, wifi dimana-mana membuat kita hampir-hampir tidak sanggup hidup jauh dari teknologi. Dan sejujurnya hal itu sangat amat menguras tenaga, emosi dan pikiran sehingga bisa hening sejenak merupakan kemewahan.

Saya baru sadar.. Kita manusia itu seperti takut sendiri. Seperti takut berhenti. Seperti takut tidak melakukan apa-apa. Sepertinya merupakan sebuah dosa jika kita diam dan “tidak melakukan apa-apa”. Kita bergantian mengisi detik-detik hidup kita dengan bekerja, internet, olahraga, mendengarkan lagu, main internet, dan hal apapun agar hidup kita selalu ada isinya. Dan kita tidak sadar, jiwa kita seperti tidak pernah pulang dari “pertempuran” dan tidak pernah kita memintanya kembali.

Di dalam keheningan tadi pagi di kereta, saya berusaha diam dan tidak berpikir. Saya hanya menatap kosong kereta dan tidak mau memusingkan berbagai-bagai hal. Saya ingin menikmati keteduhan yang jarang bisa saya temukan. Lalu di tengah-tengah hening tersebut, tiba-tiba saya teringat sebuah lagu rohani yang saya tidak pernah ingat judulnya tapi liriknya terpatri dalam di hati saya…

The steadfast love of the Lord never ceases
His mercies never come to an end
They are new every morning.. New every morning
Great is Thy faithfulness o.. Lord.. Great is Thy faithfulness

Saya mencari instrumental lagu ini tang menurut saya cukup meneduhkan hati oleh Jeremy Choi.

Dalam pagi ini saya mendapati bahwa keheningan membawa saya untuk mengingat akan Pencipta saya.. Memuji-mujikan kasih setia-Nya yang dalam keadaan gelap atau terang, berawan atau mendung hujan, terpuruk jatuh atau menanjak bangkit.. Kasih setia-Nya selalu baru setiap pagi, besar setia-Nya tak terselami.

Kapan kita terakhir hening?

Kapan kita terakhir bisa datang tanpa membawa “pesanan” kepada Sang Pencipta dan hanya membawa pujian serta penyerahan diri kepada-Nya?

Coba sejenak teduh.. Matikan hape.. Pandang langit.. Duduk diam.. Lalu tunggulah Tuhan bicara kepadamu..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s