Perkara Makan dan Masak: Sebuah Restorasi Mindset

10661782_10152315880166846_8471666969796805568_o

Saya ini pecinta makanan dan social media. Pekerjaan saya sehari-hari mengurusi resep masakan dari dapur “orang biasa” (ibu rumah tangga, mahasiswa, working mom, pekerja kantoran) dan mengoneksikannya ke dunia internet agar bisa dibaca, dilihat, dan dipraktekan oleh orang-orang yang konon katanya ngga punya bakat masak tapi harus masak. Selain itu, di waktu senggang saya suka mengamat-amati perilaku orang memasak dan makan lewat sosial media ūüôā

Sering sekali ketika bekerja saya terkagun-kagum melihat banyak sekali resep-resep masakan khas restoran ternyata bisa dibuat sendiri di rumah oleh “orang-orang biasa” ini. Mereka hanya berbekal koneksi internet dan waktu untuk browse resep-resep ala restoran yang ternyata bisa ditemukan dan DIBUAT! Lalu ketika mereka membagikan pengalaman mereka, ada kepuasan tersendiri ketika berhasil “mengucapkan selamat tinggal” kepada restoran tertentu.

1614105_10204877942178888_5706104500089699363_o

Makan-makan cantik

Sembari saya menulis ini, saya teringat akan postingan-postingan beberapa teman di Path, Facebook, Foursquare yang¬†check in¬†di restoran-restoran mahal di kawasan Menteng, Senopati, hotel-hotel berbintang min. 4, PIK yang pernah saya intip harganya yang lumayan sekali bikin dompet cepet tipis dan kantong jadi bolong sekejab, padahal ketika melihat masakan restoran, saya suka berujar, “ini mah es krim vanilla pake roti” atau “ini mah nasi sapi lada hitam.” atau “ini mah sup krim ayam.” dan masih banyak lagi istilah masakan yang bisa dibuat di rumah namun diganti namanya dengan bahasa Inggris lalu sim sala bim.. harga naik jadi 2-3 kali lipat.¬†Kalau istilah teman saya, mereka sedang “makan-makan cantik”.

Saya pikir untuk merayakan sesuatu atau sesekali untuk menyenangkan diri sendiri sih ngga papa. Setiap kita¬†perlu suasana baru dan sesekali jajan tapi kalau hampir setiap hari sih saya jadi bertanya, “kerja apa ia ya¬†duitnya seperti air mengalir lancar.”. Kita lihat ya misalnya saja sebangsa 1 piring pancake untuk porsi 1 orang itu harganya sekitar Rp. 40-50 ribu, padahal kalau beli sendiri bahan di toko, dengan uang segitu bisa menjamu 5 orang sampai perut jadi begah. Ada lagi yang “ngopi-ngopi cantik” dimana 1 cangkir sekitar Rp. 40-50 ribu juga atau “ngeteh-ngeteh cantik” dimana 1 poci itu berkisar Rp. 60-80 ribu rupiah dengan teh celup yang kalau beli dengan merek yang sama bisa dapat 1 kotak full dan masih banyak lagi.¬†Memang sih kebanyakan kita¬†makan di suatu tempat karena suasananya, katanya lain atau berasa lebih enak saja atau suasananya kan beda masa check in di rumah judulnya “ngeteh bareng”. ¬†

Apa sih masalahnya?

Bagi saya, sebenarnya bukan perkara makan mahal atau murah atau di rumah. Ini adalah perkara mengapa kita melakukan segala sesuatu termasuk makan, dan apakah keputusan kita untuk melakukannya adalah merupakan opsi terbaik dari semua opsi yang ada? Ada beberapa hal yang terpikirkan sih oleh saya ketika memikirkan perkara ini:

  • Jangan-jangan ini hanyalah masalah pengendalian diri dalam menggunakan uang.
  • Mungkin kita bekerja tidak sesuai passion lalu kita balas dendam dengan makan makanan mahal sebagai penebusan akan rasa bersalah kepada diri sendiri karena tidak mampu keluar dari tuntutan industri pekerjaan dan belum berani keluar dari zona nyaman untuk menjawab¬†passion.
  • Ada kekosongan dalam hati kita, dimana kita melarikan diri ke makanan mahal dan menghabiskan begitu banyak uang dengan harapan gaya hidup seperti ini akan mengisi kehampaan yang kita rasakan.
  • Kemungkinan lainnya, kita ingin diri kita diakui bahwa kita berhasil dan orang yang sukses itu makan di restoran mahal bukan di rumah, apa jadinya coba kalau calon prospek kita atau calon klien liat kita makan di tempat-tempat murah atau di rumah saja, bisa-bisa dipikir pekerjaan kita ngga menghasilkan dan membawa keuntungan.

10915184_10205350861161567_472032783909516229_n

Masak sendiri vs Makan restoran

Bagi saya pribadi, saya bukan orang yang menentang ¬†“makan-makan , ngeteh-ngeteh, ngopi-ngopi cantik”. Kadang-kadang saya besama 2 teman saya melakukanya bersama-sama. Biasanya untuk merayakan ulang tahun (dan itupun bayar bertiga patungan), salah satu lagi patah hati atau lagi galau, atau lagi ngidam luar biasa. Saya bukan penentang makan makanan mahal, kalau ada yang mau traktir sih saya bahagia sekali, namun saya adalah pendukung berat makan di rumah dan sebisa mungkin menghindari makan-makanan yang harganya tidak masuk akal.

Selebihnya saya lebih suka menghabiskan uang yang tentunya sudah saya budgetkan untuk membeli bahan dan memasak sendiri masakan khas restoran favorit, mengasah skill masak agar lebih baik, berdag-dig-dug menunggu hasil masakan jadi atau gagal dan menambah pengetahuan cara memasak sesuatu yang lebih baik. Toh, resep sudah ada, tinggal dipraktekan.

10628678_10152685720273748_349274444370435147_o

Fokus saya yang lain adalah mengenai kebersihan, gizi, kadar gula garam pada makanan restoran. Musuh kita bukan lagi MSG, tapi juga gula dan garam. Memasak sendiri, saya tahu berapa jumlah takaran yang saya masukan dan bisa menyesuaikan dengan kesehatan orang yang memakan makanan kita. Biar kata makan di restoran terkenal, kita lebih tahu lidah dan tubuh keluarga sendiri dibanding para koki di dapur restoran yang tidak kenal kita.

1900394_10151879321211846_160691516_o

Namun lebih dari itu, alasan saya memasak sendiri di rumah adalah saya mendapati hubungan saya bersama dengan orang-orang yang bersama saya di meja makan rumah lebih erat dan terbuka satu sama lain. Kami bisa berbagi hari dan pergumulan di meja makan, bisa melihat wajah dan ekspresi mereka makan makanan kita serta menikmati mereka berebut makanan yang kita masak. Repot? Iya sudah jelas. Bahagia? Iya pakai banget!

Penutup

Sejak saya bekerja di bidang industri teknologi kuliner, saya melihat mindset saya berubah soal makan dan masak. Saya melihat proses masak di rumah sebagai bagian harian yang MAHA PENTING dalam kehidupan seseorang. Semakin hari, saya makin menghargai masakan rumahan karena saya tahu prosesnya tidak mudah  namun tetap dijalani oleh seorang mama. Makan di restoran tentu enak, namun seringkali yang saya rindukan bukan makanan restoran tapi masakan mama di rumah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s