Terlalu takut (part 1)

Akhir-akhir ini saya merasakan sebuah penyesalan serta kegundahan dalam hati saya.. 

Saya tidak akan menyalahkan sosial media, namun adalah sungguh benar bahwa postingan kesuksesan yang saya lihat dalam diri seseorang sedikit banyak mempengaruhi saya. Betul, kesuksesan itu ibarat puncak gunung es, dan di bawahnya terdapat kerja keras, pengorbanan, keberanian, kegetiran dan masih banyak lagi.

Well eniwey.. Saya melihat diri saya di umur menuju kepala 3 belum terlalu banyak melakukan hal yang cukup “kontributif” dan saya melihat ada banyak ketakutan yang terlalu menguasai saya sehingga saya tidak berani beranjak dari kapal saya dan berlayar jauh. 

Beberapa kelihatan sepele dan nampak remeh temeh, namun sebenarnya bukan tindakannya tapi mengapa saya masih diam di tempat sekalipun saya benar-benar ingin.. Atau jangan-jangan tidak benar-benar ingin. Sebut saja:

  • Datang ke konser Maroon 5

Tahun ini grup band Fav saya datang lagi, dan ini sudah kali ke-3. Dulu alasan saya: jauh, belum punya uang, belum bisa nyetir, takut nyasar, dan sebagainya (takut diculik?!)

Kali ini, saya bisa ambil cuti, beli tiket yang festival, pakai Uber ke Sentul atau maksa pacar.. Lalu apa lagi yang saya tunggu? Lalu apalagi alasannya kali ini? 

Jujur aja karena masalah Maroon 5 ini saya merasa bersalah kepada diri sendiri.. Kenapa tidak berani melakukan hal yang ingin dilakukan sejak lama? Mau tunggu sampai kesempatan berapa kali lagi baru mewujudkannya. Bagi saya ini bukan sekedar datang ke konser Maroon 5 atau tidak, ini adalah masalah kenapa masih saja diam di tempat dan tidak bergerak? 

Entah berapa banyak konser yang saya sesali tidak “bisa” saya hadiri.. Sebut saja Dave Koz di Jogja 16 Mei kemarin, MLTR juga di Jogja tahun lalu, DAVID FOSTER! Ah, come on! Its David, lis… Mau tahu apa yang saya lakukan? Saya putar DVD konsernya saat di Las Vegas di DVD player saya. Saya diam-diam berjanji, kalau ada kali ke-2 saya akan nonton.. Sayang seribu sayang, kali ke-2 datang saya pun tetap tidak datang. 

Dibukanya penjualan tiket konser Maroon 5 membuat saya galau, dan membawa memori-memori itu kembali. Saya dihantam dari dalam oleh diri saya, ditantang untuk berani bertindak. Namun saya diam.

  • Nulis buku

Entahlah sudah berapa kali saya konsepkan buku masak untuk ditulis.. Entah sudah berapa banyak orang yang saya koar-koarkan bahwa saya akan menulis buku masak..Dan entah sudah berapa lama saya menyimpan ide-ide di kepala tanpa pernah mengeksekusi.

Hingga akhirnya lagi-lagi saya dihantam.. Melihat beberapa orang menelurkan buku, dan karya mereka dipuji di jagad dunia maua membuat saya tertegun, dan saya terus bertanya  dengan KERAS, “Hei, mau berapa lama lagi kamu CUMA tertegun?!”

Saya begitu takut.. Terlalu takut, “nanti hasil tidak sempurna” , “nanti ngga ada yang beli”, “nanti ngga bisa nulisnya” , “nanti dan nanti.. Ngga dan ngga”

Sebenarnya saya sungguh takut.. Takut menyesal dan terlambat. Dan satu-satunya obat adalah tindakan dan mengerjakan.

(To be continued)