Terlalu takut (part 1)

Akhir-akhir ini saya merasakan sebuah penyesalan serta kegundahan dalam hati saya.. 

Saya tidak akan menyalahkan sosial media, namun adalah sungguh benar bahwa postingan kesuksesan yang saya lihat dalam diri seseorang sedikit banyak mempengaruhi saya. Betul, kesuksesan itu ibarat puncak gunung es, dan di bawahnya terdapat kerja keras, pengorbanan, keberanian, kegetiran dan masih banyak lagi.

Well eniwey.. Saya melihat diri saya di umur menuju kepala 3 belum terlalu banyak melakukan hal yang cukup “kontributif” dan saya melihat ada banyak ketakutan yang terlalu menguasai saya sehingga saya tidak berani beranjak dari kapal saya dan berlayar jauh. 

Beberapa kelihatan sepele dan nampak remeh temeh, namun sebenarnya bukan tindakannya tapi mengapa saya masih diam di tempat sekalipun saya benar-benar ingin.. Atau jangan-jangan tidak benar-benar ingin. Sebut saja:

  • Datang ke konser Maroon 5

Tahun ini grup band Fav saya datang lagi, dan ini sudah kali ke-3. Dulu alasan saya: jauh, belum punya uang, belum bisa nyetir, takut nyasar, dan sebagainya (takut diculik?!)

Kali ini, saya bisa ambil cuti, beli tiket yang festival, pakai Uber ke Sentul atau maksa pacar.. Lalu apa lagi yang saya tunggu? Lalu apalagi alasannya kali ini? 

Jujur aja karena masalah Maroon 5 ini saya merasa bersalah kepada diri sendiri.. Kenapa tidak berani melakukan hal yang ingin dilakukan sejak lama? Mau tunggu sampai kesempatan berapa kali lagi baru mewujudkannya. Bagi saya ini bukan sekedar datang ke konser Maroon 5 atau tidak, ini adalah masalah kenapa masih saja diam di tempat dan tidak bergerak? 

Entah berapa banyak konser yang saya sesali tidak “bisa” saya hadiri.. Sebut saja Dave Koz di Jogja 16 Mei kemarin, MLTR juga di Jogja tahun lalu, DAVID FOSTER! Ah, come on! Its David, lis… Mau tahu apa yang saya lakukan? Saya putar DVD konsernya saat di Las Vegas di DVD player saya. Saya diam-diam berjanji, kalau ada kali ke-2 saya akan nonton.. Sayang seribu sayang, kali ke-2 datang saya pun tetap tidak datang. 

Dibukanya penjualan tiket konser Maroon 5 membuat saya galau, dan membawa memori-memori itu kembali. Saya dihantam dari dalam oleh diri saya, ditantang untuk berani bertindak. Namun saya diam.

  • Nulis buku

Entahlah sudah berapa kali saya konsepkan buku masak untuk ditulis.. Entah sudah berapa banyak orang yang saya koar-koarkan bahwa saya akan menulis buku masak..Dan entah sudah berapa lama saya menyimpan ide-ide di kepala tanpa pernah mengeksekusi.

Hingga akhirnya lagi-lagi saya dihantam.. Melihat beberapa orang menelurkan buku, dan karya mereka dipuji di jagad dunia maua membuat saya tertegun, dan saya terus bertanya  dengan KERAS, “Hei, mau berapa lama lagi kamu CUMA tertegun?!”

Saya begitu takut.. Terlalu takut, “nanti hasil tidak sempurna” , “nanti ngga ada yang beli”, “nanti ngga bisa nulisnya” , “nanti dan nanti.. Ngga dan ngga”

Sebenarnya saya sungguh takut.. Takut menyesal dan terlambat. Dan satu-satunya obat adalah tindakan dan mengerjakan.

(To be continued)

Perkara Makan dan Masak: Sebuah Restorasi Mindset

10661782_10152315880166846_8471666969796805568_o

Saya ini pecinta makanan dan social media. Pekerjaan saya sehari-hari mengurusi resep masakan dari dapur “orang biasa” (ibu rumah tangga, mahasiswa, working mom, pekerja kantoran) dan mengoneksikannya ke dunia internet agar bisa dibaca, dilihat, dan dipraktekan oleh orang-orang yang konon katanya ngga punya bakat masak tapi harus masak. Selain itu, di waktu senggang saya suka mengamat-amati perilaku orang memasak dan makan lewat sosial media ūüôā

Sering sekali ketika bekerja saya terkagun-kagum melihat banyak sekali resep-resep masakan khas restoran ternyata bisa dibuat sendiri di rumah oleh “orang-orang biasa” ini. Mereka hanya berbekal koneksi internet dan waktu untuk browse resep-resep ala restoran yang ternyata bisa ditemukan dan DIBUAT! Lalu ketika mereka membagikan pengalaman mereka, ada kepuasan tersendiri ketika berhasil “mengucapkan selamat tinggal” kepada restoran tertentu.

1614105_10204877942178888_5706104500089699363_o

Makan-makan cantik

Sembari saya menulis ini, saya teringat akan postingan-postingan beberapa teman di Path, Facebook, Foursquare yang¬†check in¬†di restoran-restoran mahal di kawasan Menteng, Senopati, hotel-hotel berbintang min. 4, PIK yang pernah saya intip harganya yang lumayan sekali bikin dompet cepet tipis dan kantong jadi bolong sekejab, padahal ketika melihat masakan restoran, saya suka berujar, “ini mah es krim vanilla pake roti” atau “ini mah nasi sapi lada hitam.” atau “ini mah sup krim ayam.” dan masih banyak lagi istilah masakan yang bisa dibuat di rumah namun diganti namanya dengan bahasa Inggris lalu sim sala bim.. harga naik jadi 2-3 kali lipat.¬†Kalau istilah teman saya, mereka sedang “makan-makan cantik”.

Saya pikir untuk merayakan sesuatu atau sesekali untuk menyenangkan diri sendiri sih ngga papa. Setiap kita¬†perlu suasana baru dan sesekali jajan tapi kalau hampir setiap hari sih saya jadi bertanya, “kerja apa ia ya¬†duitnya seperti air mengalir lancar.”. Kita lihat ya misalnya saja sebangsa 1 piring pancake untuk porsi 1 orang itu harganya sekitar Rp. 40-50 ribu, padahal kalau beli sendiri bahan di toko, dengan uang segitu bisa menjamu 5 orang sampai perut jadi begah. Ada lagi yang “ngopi-ngopi cantik” dimana 1 cangkir sekitar Rp. 40-50 ribu juga atau “ngeteh-ngeteh cantik” dimana 1 poci itu berkisar Rp. 60-80 ribu rupiah dengan teh celup yang kalau beli dengan merek yang sama bisa dapat 1 kotak full dan masih banyak lagi.¬†Memang sih kebanyakan kita¬†makan di suatu tempat karena suasananya, katanya lain atau berasa lebih enak saja atau suasananya kan beda masa check in di rumah judulnya “ngeteh bareng”. ¬†

Apa sih masalahnya?

Bagi saya, sebenarnya bukan perkara makan mahal atau murah atau di rumah. Ini adalah perkara mengapa kita melakukan segala sesuatu termasuk makan, dan apakah keputusan kita untuk melakukannya adalah merupakan opsi terbaik dari semua opsi yang ada? Ada beberapa hal yang terpikirkan sih oleh saya ketika memikirkan perkara ini:

  • Jangan-jangan ini hanyalah masalah pengendalian diri dalam menggunakan uang.
  • Mungkin kita bekerja tidak sesuai passion lalu kita balas dendam dengan makan makanan mahal sebagai penebusan akan rasa bersalah kepada diri sendiri karena tidak mampu keluar dari tuntutan industri pekerjaan dan belum berani keluar dari zona nyaman untuk menjawab¬†passion.
  • Ada kekosongan dalam hati kita, dimana kita melarikan diri ke makanan mahal dan menghabiskan begitu banyak uang dengan harapan gaya hidup seperti ini akan mengisi kehampaan yang kita rasakan.
  • Kemungkinan lainnya, kita ingin diri kita diakui bahwa kita berhasil dan orang yang sukses itu makan di restoran mahal bukan di rumah, apa jadinya coba kalau calon prospek kita atau calon klien liat kita makan di tempat-tempat murah atau di rumah saja, bisa-bisa dipikir pekerjaan kita ngga menghasilkan dan membawa keuntungan.

10915184_10205350861161567_472032783909516229_n

Masak sendiri vs Makan restoran

Bagi saya pribadi, saya bukan orang yang menentang ¬†“makan-makan , ngeteh-ngeteh, ngopi-ngopi cantik”. Kadang-kadang saya besama 2 teman saya melakukanya bersama-sama. Biasanya untuk merayakan ulang tahun (dan itupun bayar bertiga patungan), salah satu lagi patah hati atau lagi galau, atau lagi ngidam luar biasa. Saya bukan penentang makan makanan mahal, kalau ada yang mau traktir sih saya bahagia sekali, namun saya adalah pendukung berat makan di rumah dan sebisa mungkin menghindari makan-makanan yang harganya tidak masuk akal.

Selebihnya saya lebih suka menghabiskan uang yang tentunya sudah saya budgetkan untuk membeli bahan dan memasak sendiri masakan khas restoran favorit, mengasah skill masak agar lebih baik, berdag-dig-dug menunggu hasil masakan jadi atau gagal dan menambah pengetahuan cara memasak sesuatu yang lebih baik. Toh, resep sudah ada, tinggal dipraktekan.

10628678_10152685720273748_349274444370435147_o

Fokus saya yang lain adalah mengenai kebersihan, gizi, kadar gula garam pada makanan restoran. Musuh kita bukan lagi MSG, tapi juga gula dan garam. Memasak sendiri, saya tahu berapa jumlah takaran yang saya masukan dan bisa menyesuaikan dengan kesehatan orang yang memakan makanan kita. Biar kata makan di restoran terkenal, kita lebih tahu lidah dan tubuh keluarga sendiri dibanding para koki di dapur restoran yang tidak kenal kita.

1900394_10151879321211846_160691516_o

Namun lebih dari itu, alasan saya memasak sendiri di rumah adalah saya mendapati hubungan saya bersama dengan orang-orang yang bersama saya di meja makan rumah lebih erat dan terbuka satu sama lain. Kami bisa berbagi hari dan pergumulan di meja makan, bisa melihat wajah dan ekspresi mereka makan makanan kita serta menikmati mereka berebut makanan yang kita masak. Repot? Iya sudah jelas. Bahagia? Iya pakai banget!

Penutup

Sejak saya bekerja di bidang industri teknologi kuliner, saya melihat mindset saya berubah soal makan dan masak. Saya melihat proses masak di rumah sebagai bagian harian yang MAHA PENTING dalam kehidupan seseorang. Semakin hari, saya makin menghargai masakan rumahan karena saya tahu prosesnya tidak mudah  namun tetap dijalani oleh seorang mama. Makan di restoran tentu enak, namun seringkali yang saya rindukan bukan makanan restoran tapi masakan mama di rumah.

Banyak orang…

Banyak orang mau minta maaf tapi ngga pernah ngerti apa arti dari menyakiti hati orang lain

Banyak orang mau mendengar tapi ngga pernah mencoba mengerti

Banyak orang mau rekonsiliasi tapi ngga mau berubah

Banyak orang kelihatannya aja ada tapi sebenarnya ngga hadir

Banyak orang yang hanya mau menawarkan tapi sebenarnya ngga begitu niat memberi

Banyak orang yang hanya menginginkan orang lain beradaptasi dengannya, tapi tidak berani melakukan hal yang sama

Banyak orang yang selalu berpikir semua ada solusinya tapi tidak pernah mau menjalankannya

Banyak orang cuma bicara di mulut tapi hatinya sebenarnya enggan

Banyak orang yang menjanjikan surga tapi yang dibawa itu neraka

Banyak orang yang tidak sinkron antara yang di luar dengan di dalam

Banyak orang yang tidak konsisten antara apa yang terucap dengan apa yang diperbuat

Banyak orang.. Yah banyak orang.. Hanya membawa kekecewaan dan tidak bisa tidak membawa kesedihan..

Banyak orang.. Yah banyak orang…

I’m looking forward to read…. (Part 1)

Ah… senang sekali rasanya browsing buku di toko buku online.. Koleksi banyak, beragam dan tentunya jarang banget ditemukan di toko buku konvensional (kapan-kapan saya akan share ya toko buku favorit baik online maupun konvensional).

Rasanya saya tidak bisa menahan diri jika tidak menjajal dan mengenalkan buku-buku bagus yang menurut saya bisa menambah khazanah wawasan dan pola pikir. Kalau kata teman baik saya, saya mungkin di kehidupan yang dulu merupakan “Pemilih Selir” bagi Kaisar karena kemampuan saya (yang kata dia) melihat dan mengenali permata terpendam..

Di bagian 1, saya akan membahas 5 buku… Berikut “permata” yang berhasil saya temukan:

9780310339328

Apa isinya? Kali ini pertanyaan yang diajukan oleh Philip Yancey, seorang jurnalis Kristen mengenai Allah, manusia dan kehidupan adalah “Apa yang terjadi pada Kabar Baik?”

Melihat begitu banyak kejadian buruk dan tragis serta memilukan hati, dimana Kabar Baik itu? Atau yang jadi keresahan adalah apakah kabar baik itu masih ada? Jika ada, apa yang terjadi? Mengapa setiap hari yang didengar adalah kabar buruk yang terjadi di berbagai belahan dunia?

Jika kamu juga menanyakan pertanyaan yang sama, mari bersama Philip Yancey menjalani sebuah perjalanan rohani bertemu dengan berbagai ragam kisah manusia dan temukan jawabannya.

9781410433824

Apa isinya? Seorang wanita yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan luka pada bagian kepala sebelah kirinya. Efeknya dahsyat karena ia kehilangan kemampuan mengolah informasi dari sebelah kiri dan dunianya telah hilang sebelah.

Lisa Genova, sang penulis adalah Ph.D di bagian neuroscience dan jangan bayangkan novel ini akan penuh dengan terminologi medis. Sebaliknya Lisa akan mengajak kita memahami dunia dari sisi yang lain dan kali ini, dari sisi bagian kanan. (She is one of my favorite woman author!)

Apa isinya? 210 solusi dari Roy Peter Clark, seorang professor di bidang jurnalistik kepada para penulis yang seringkali menghadapi masalah ketika menulis dan tidak tahu bagaimana mengatasinya. Dengan pengalaman Clark di bidang tulis menulis, dan pengertiannya akan kesulitan yang dialami setiap orang yang bergelut di dalamnya, buku ini adalah buku maha penting dan wajib untuk dibaca.

Apa isinya? Kumpulan pertanyaan dan topik untuk jadi bahan diskusi yang berbobot dimana membantu kita mengenali dengan lebih dalam pemikiran dari teman kita, pasangan kita, bahkan orang asing sekalipun. Bagi kamu yang ngga suka dengan “small talk” buku ini boleh dijajal.

9781449457952

Apa isinya? Kompilasi kartun-kartun yang terinspirasi dari quotes berbagai tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, CS Lewis, Shonda Rhimes, Eleanor Roosevelt, dll.

Saya sendiri adalah fans berat dari Gavin, seorang tukang gambar yang melepas pekerjaannya di biro iklan Australia yang akhirnya “menikahi” passionnya yaitu mengambar dan menginspirasi orang yang mampir di blognya zenpencils.com¬†dan akhirnya menerbitkannya ke dalam media cetak.

(bersambung ke part II… Nantikan kelanjutannya)

Dicari: Keheningan!

Jakarta, 22 Januari 2015

07.302015/01/img_3152-1.jpgPagi ini, cuaca mendung dan hujan rintik yang awalnya begitu meneduhkan berganti menjadi hujan deras dan lebat yang bergemurug menyelimuti suasana Jakarta khususnya bagian Utara dan Selatan.

Namun di pagi yang sama pula, saya merasakan suasana yang begitu hening dan tenang dalam kereta.

2015/01/img_3148-0.jpg

Saya sangat beruntung karena saya berangkat dari daerah barat ke selatan sehingga kereta juga cenderung sepi karena keramaian terjadi di arah yang berlawanan. Dan di tengah keheningan kereta, saya bisa “mengistirahatkan” jiwa saya. Maklum saja, saya hidup di kota yang begitu bising, ribut dan ramai.
Keemacetan jalan, bunyi klakson mobil dan motor, keruwetan lalu lintas, bunyi bbm atau whatsapp, wifi dimana-mana membuat kita hampir-hampir tidak sanggup hidup jauh dari teknologi. Dan sejujurnya hal itu sangat amat menguras tenaga, emosi dan pikiran sehingga bisa hening sejenak merupakan kemewahan.

Saya baru sadar.. Kita manusia itu seperti takut sendiri. Seperti takut berhenti. Seperti takut tidak melakukan apa-apa. Sepertinya merupakan sebuah dosa jika kita diam dan “tidak melakukan apa-apa”. Kita bergantian mengisi detik-detik hidup kita dengan bekerja, internet, olahraga, mendengarkan lagu, main internet, dan hal apapun agar hidup kita selalu ada isinya. Dan kita tidak sadar, jiwa kita seperti tidak pernah pulang dari “pertempuran” dan tidak pernah kita memintanya kembali.

Di dalam keheningan tadi pagi di kereta, saya berusaha diam dan tidak berpikir. Saya hanya menatap kosong kereta dan tidak mau memusingkan berbagai-bagai hal. Saya ingin menikmati keteduhan yang jarang bisa saya temukan. Lalu di tengah-tengah hening tersebut, tiba-tiba saya teringat sebuah lagu rohani yang saya tidak pernah ingat judulnya tapi liriknya terpatri dalam di hati saya…

The steadfast love of the Lord never ceases
His mercies never come to an end
They are new every morning.. New every morning
Great is Thy faithfulness o.. Lord.. Great is Thy faithfulness

Saya mencari instrumental lagu ini tang menurut saya cukup meneduhkan hati oleh Jeremy Choi.

Dalam pagi ini saya mendapati bahwa keheningan membawa saya untuk mengingat akan Pencipta saya.. Memuji-mujikan kasih setia-Nya yang dalam keadaan gelap atau terang, berawan atau mendung hujan, terpuruk jatuh atau menanjak bangkit.. Kasih setia-Nya selalu baru setiap pagi, besar setia-Nya tak terselami.

Kapan kita terakhir hening?

Kapan kita terakhir bisa datang tanpa membawa “pesanan” kepada Sang Pencipta dan hanya membawa pujian serta penyerahan diri kepada-Nya?

Coba sejenak teduh.. Matikan hape.. Pandang langit.. Duduk diam.. Lalu tunggulah Tuhan bicara kepadamu..

Benang kusut

2015/01/img_2187.jpg

Saya mencoba mencari topik yang menarik untuk saya tulis tapi tak kunjung ketemu.. Akhirnya saya coba menuliskan saja apa yang pikiran saya rasakan dan hati saya pikirkan..

Karena kusut jadi tidak terlalu berkaitan antara hal yang 1 dengan hal yang lain tapi sebenarnya ada dalam 1 kepala dan hati yang sama. Kira-kira beginilah kusutnya pikiran saya:

Akhir-akhir ini cuaca cukup gloomy. Kadang cerah dan berawan. Kadang terik menyengat tapi awan hitam. Hari ini kalau ada yang perhatikan pukul 18.20 sore masih terang benderang.. Sayang lagi-lagi tidak difoto.. Sedang tidak mood.

Pernahkah teman-teman semua merasa hidup itu membingungkan? Sangking bingungnya, kita tidak tahu apa yang kita rasakan.. Suasana hati tidak menentu seperti cuaca yang saya ceritakan di atas. Ingin berkumpul bersama teman tapi juga mau sendiri.. Pengen sendirian tapi tidak mau ditinggal. Tidak jelas maunya apa.

Kadang saya berharap ada satu alat seperti tongkat yang bisa mengeluarkan kesemerawutan pikiran dan memulihkan mood menjadi lebih baik. Lalu alat itu memberi tahu, sebenarnya saya itu sedang pikir apa sih, apa yang bikin bingung dan sebenarnya masalah yang SEBENARNYA itu apa… Jadi ngga terus menerus berkutat pada pikiran tidak jelas dan mood yang berantakan.

Tapi benarkah saya tidak tahu apa yang bikin kusut? Jangan-jangan saya tahu tapi terlalu malas untuk mengurai dan melihat bahwa sebenarnya hidup saya tidak rumit.. Cuma kadang kalau kata teman saya, saya suka overthinking. Mungkin bukan cuma overthinking saja, tapi juga oversensitive.

Berada dalam ketidakjelasan mood, isi pikiran, dan penyebabnya membuat saya jadi uring-uringan karena saya suka sesuatu itu jelas.

Sejelas wiper mobil ketika menghapus air hujan dari kaca, sejelas kata “jadian atau putus” dari status hubungan, sejelas kacamata yang tidak berembun ketika keluar dari mobil yang berudara dingin, sejelas tulisan yang bisa dibaca tanpa mengerenyutkan dahi.

Pikiran wanita penuh layer, tidak bisa disibak hanya bisa disimak.

Akhir kata, maafkan ketidakjelasan tulisan ini mengarah kemana dan isinya apa karena kadang sebagai manusia saya merasa bingung, gundah, dan semrawut.

Semoga kesemerawutan ini cepat terurai ya sehingga saya bisa menulis dengan baik dan bermanfaat.

Sedang kusut semrawut,

— E —

E, siapa Tuhan kamu?

8286b60898b3b4d10e987c6f0f795bd9

Hari ini adalah hari yang kurang baik buat saya.. Ada sedikit masalah yang membuat saya sangat..sangat…sangat heart broken, discourage, dan ini bukan kali pertama saya merasa seperti itu.

Saya makan sembari menangis dan bertanya-tanya dalam hati begitu keras, “kenapa sih E¬†kamu sampai digituin orang?”, “kenapa sih kok masih mau bertahan? Memang apa sih yang kamu dapat atau kamu terima? Cuma kecewa toh, dihina orang kan, harga diri terinjak kan?”

Saya berpikir dan berpikir keras… Lalu saya berdoa kepada Tuhan sambil menangis menahan sesak, “Tuhan, kalau ini jalannya, which is aku percaya Engkau yang buka dan arahkan hingga ke jalan ini, kok sulit banget ya? Kok kenapa musti sampai begini ya? Kalau ini jalannya, Tuhan.. aku mohon ya dikuatkan dan diberi petunjuk how to do my work. Terus terang Tuhan, aku ini memang lambat berpikir, mungkin bahkan tidak pintar dibanding teman-teman lain..and sometimes i want to give up.. tapi kalau Tuhan sudah arahkan hingga sampai saat ini masih disini, Tuhan… Please show me how to do my work, supaya ngga dihina orang atau supaya ngga terus menerus melakukan kesalahan yang sama.. Tapi kalau Tuhan sudah buat “tidak nyaman” lalu Tuhan mau bawa aku kemana? Tuhan tolong tunjukkan…”

Saya pada saat itu tidak berpikir, doa saya benar atau salah. Yang saya tahu adalah saya sudah tidak sanggup menahan tekanan yang begitu besar dan membuat saya berdarah-darah seperti ini, dan saya hanya tahu mengadu kepada Tuhan yang notabene mengatur jalan saya kesana.

Ketika pulang kerja, saya “terjebak” untuk ikut pertemuan di sebuah gereja. Disana seharusnya saya tidak hadir karena bukan jemaat di gereja tersebut, tapi saya ikut juga karena satu dan lain hal. Saya sudah tahu sih pertemuan itu isinya apa, tapi yang saya tidak sangka adalah lewat pertemuan itu Tuhan berbicara kepada saya.

Isi pertemuan itu adalah sebuah¬†sharing berisi kerinduan untuk membangkitkan anak muda Kristen untuk lebih mencintai Tuhan dengan lebih sungguh dalam hidupnya, istilahnya “berani gila” untuk Tuhan. Saya tidak bisa share lebih lanjut isi pertemuan itu apa, tapi saya hendak share apa yang Tuhan bisikan kepada saya. Berikut pertanyaan yang mengusik dan menggelisahkan hati saya:

  1. Hal apa yang dimana kamu berkorban paling banyak?
  2. Hal apa yang paling menyita seluruh energi, tenaga, pikiran dan waktu kamu?
  3. Hal apa yang dimana kamu dianggap gila karena melakukannya?

Semua jawaban dari 3 pertanyaan itu hanya 1, sebut saja jawabannya X dan sayangnya X itu bukan Tuhan. Lalu saya tidak bisa lagi melanjutkan doa dengan pikiran jernih.

X inilah yang menyita, menghisap, menghabiskan diri saya seutuh-utuhnya. Dan itu bukan Tuhan.

X inilah yang dimana demi X ini saya dihina orang, dianggap orang ngga becus dan harga diri saya diinjak-injak. Dan itu bukan Tuhan

X inilah yang membuat saya stress, tidak bisa tidur, tertekan sepanjang waktu dan terus bertanya kenapa saya melakukan ini. Dan itu bukan Tuhan.

X inilah yang menjadi hidup saya sekarang, dan saya tidak lagi memiliki kehidupan personal karena saya sudah mendedikasikan apapun yang saya miliki untuk X. Dan itu bukan Tuhan.

Lalu ada satu mendoakan untuk orang-orang yang hadir karena ia percaya itu bukan sebuah kebetulan dan ada rencana Tuhan di sana yang mengizinkan setiap orang yang hadir diberi kesempatan untuk mendengar sebuah kerinduan untuk Tuhan yang lebih serius. Saya aminkan doa dari orang tersebut karena saya bukan orang yang seharusnya ada tapi malah hadir.

Ketika acara selesai dan saya menuju ke kamar kecil, saya berpikir keras dan saya tidak kuasa menjawab bisikan Tuhan, bahkan kalau mungkin saya bilang itu bukan bisikan.. Itu adalah hardikan dari Tuhan..

Kalau demi X itu kamu bisa “gila”, kenapa kamu tidak bisa “gila” buat SAYA?

Kalau demi X itu kamu bisa korbankan apapun, kenapa kamu masih hitung-hitungan dengan SAYA?

Kalau demi X itu kamu sampai hancur hati mengerjakannya, kok kamu ngga segitunya dengan SAYA?

Saya tidak bisa menjawab..

Lalu saya ceritakan kepada teman saya, dimana saya awal berdoa memohon petunjuk lalu beberapa jam kemudian “terjebak” dalam pertemuan, lalu isi pertemuannya adalah mengenai kasih yang “gila” demi Tuhan… Saya bertanya “Menurut kamu, itu artinya apa?” , dan ia menjawab, “Artinya Ia mendengar keluh kesah kamu.”

Saya masih kurang puas dengan jawabannya, lalu saya bertanya lagi, “Lalu action to do nya apa?”, dan ia menjawab, “Yah, itu kamu harus tanyakan sendiri lagi kepada Tuhan.”

Ya.. Saya pikir ini adalah awal dari sebuah hubungan yang lebih serius antara saya dan Tuhan, dimana saya harus instropeksi diri dan bahkan mungkin mengambil keputusan gila bila saya pikir itu akan membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya juga harus melihat dan bertobat apabila X itu sekalipun itu hal baik, ternyata sudah saya jadikan “tuhan” dalam hidup saya.

Sayya bersyukur Tuhan saya yang Maha Mendengar itu berbicara kepada saya.

Saya bersyukur juga Tuhan saya yang Maha Pengasih itu mengingatkan saya bahwa Ia adalah Tuhan, dan X itu bukan.

Saya sungguh bersyukur ada hal-hal yang Tuhan utarakan kepada saya lewat jalan-Nya yang penuh misteri.

Dan itu artinya saya harus lebih sering lagi berkomunikasi 2 arah dengan Tuhan.

Agar saya lebih mengerti.

Agar saya lebih sensitif.

Agar saya dapat lebih mengasihi-Nya.