E, siapa Tuhan kamu?

8286b60898b3b4d10e987c6f0f795bd9

Hari ini adalah hari yang kurang baik buat saya.. Ada sedikit masalah yang membuat saya sangat..sangat…sangat heart broken, discourage, dan ini bukan kali pertama saya merasa seperti itu.

Saya makan sembari menangis dan bertanya-tanya dalam hati begitu keras, “kenapa sih E¬†kamu sampai digituin orang?”, “kenapa sih kok masih mau bertahan? Memang apa sih yang kamu dapat atau kamu terima? Cuma kecewa toh, dihina orang kan, harga diri terinjak kan?”

Saya berpikir dan berpikir keras… Lalu saya berdoa kepada Tuhan sambil menangis menahan sesak, “Tuhan, kalau ini jalannya, which is aku percaya Engkau yang buka dan arahkan hingga ke jalan ini, kok sulit banget ya? Kok kenapa musti sampai begini ya? Kalau ini jalannya, Tuhan.. aku mohon ya dikuatkan dan diberi petunjuk how to do my work. Terus terang Tuhan, aku ini memang lambat berpikir, mungkin bahkan tidak pintar dibanding teman-teman lain..and sometimes i want to give up.. tapi kalau Tuhan sudah arahkan hingga sampai saat ini masih disini, Tuhan… Please show me how to do my work, supaya ngga dihina orang atau supaya ngga terus menerus melakukan kesalahan yang sama.. Tapi kalau Tuhan sudah buat “tidak nyaman” lalu Tuhan mau bawa aku kemana? Tuhan tolong tunjukkan…”

Saya pada saat itu tidak berpikir, doa saya benar atau salah. Yang saya tahu adalah saya sudah tidak sanggup menahan tekanan yang begitu besar dan membuat saya berdarah-darah seperti ini, dan saya hanya tahu mengadu kepada Tuhan yang notabene mengatur jalan saya kesana.

Ketika pulang kerja, saya “terjebak” untuk ikut pertemuan di sebuah gereja. Disana seharusnya saya tidak hadir karena bukan jemaat di gereja tersebut, tapi saya ikut juga karena satu dan lain hal. Saya sudah tahu sih pertemuan itu isinya apa, tapi yang saya tidak sangka adalah lewat pertemuan itu Tuhan berbicara kepada saya.

Isi pertemuan itu adalah sebuah¬†sharing berisi kerinduan untuk membangkitkan anak muda Kristen untuk lebih mencintai Tuhan dengan lebih sungguh dalam hidupnya, istilahnya “berani gila” untuk Tuhan. Saya tidak bisa share lebih lanjut isi pertemuan itu apa, tapi saya hendak share apa yang Tuhan bisikan kepada saya. Berikut pertanyaan yang mengusik dan menggelisahkan hati saya:

  1. Hal apa yang dimana kamu berkorban paling banyak?
  2. Hal apa yang paling menyita seluruh energi, tenaga, pikiran dan waktu kamu?
  3. Hal apa yang dimana kamu dianggap gila karena melakukannya?

Semua jawaban dari 3 pertanyaan itu hanya 1, sebut saja jawabannya X dan sayangnya X itu bukan Tuhan. Lalu saya tidak bisa lagi melanjutkan doa dengan pikiran jernih.

X inilah yang menyita, menghisap, menghabiskan diri saya seutuh-utuhnya. Dan itu bukan Tuhan.

X inilah yang dimana demi X ini saya dihina orang, dianggap orang ngga becus dan harga diri saya diinjak-injak. Dan itu bukan Tuhan

X inilah yang membuat saya stress, tidak bisa tidur, tertekan sepanjang waktu dan terus bertanya kenapa saya melakukan ini. Dan itu bukan Tuhan.

X inilah yang menjadi hidup saya sekarang, dan saya tidak lagi memiliki kehidupan personal karena saya sudah mendedikasikan apapun yang saya miliki untuk X. Dan itu bukan Tuhan.

Lalu ada satu mendoakan untuk orang-orang yang hadir karena ia percaya itu bukan sebuah kebetulan dan ada rencana Tuhan di sana yang mengizinkan setiap orang yang hadir diberi kesempatan untuk mendengar sebuah kerinduan untuk Tuhan yang lebih serius. Saya aminkan doa dari orang tersebut karena saya bukan orang yang seharusnya ada tapi malah hadir.

Ketika acara selesai dan saya menuju ke kamar kecil, saya berpikir keras dan saya tidak kuasa menjawab bisikan Tuhan, bahkan kalau mungkin saya bilang itu bukan bisikan.. Itu adalah hardikan dari Tuhan..

Kalau demi X itu kamu bisa “gila”, kenapa kamu tidak bisa “gila” buat SAYA?

Kalau demi X itu kamu bisa korbankan apapun, kenapa kamu masih hitung-hitungan dengan SAYA?

Kalau demi X itu kamu sampai hancur hati mengerjakannya, kok kamu ngga segitunya dengan SAYA?

Saya tidak bisa menjawab..

Lalu saya ceritakan kepada teman saya, dimana saya awal berdoa memohon petunjuk lalu beberapa jam kemudian “terjebak” dalam pertemuan, lalu isi pertemuannya adalah mengenai kasih yang “gila” demi Tuhan… Saya bertanya “Menurut kamu, itu artinya apa?” , dan ia menjawab, “Artinya Ia mendengar keluh kesah kamu.”

Saya masih kurang puas dengan jawabannya, lalu saya bertanya lagi, “Lalu action to do nya apa?”, dan ia menjawab, “Yah, itu kamu harus tanyakan sendiri lagi kepada Tuhan.”

Ya.. Saya pikir ini adalah awal dari sebuah hubungan yang lebih serius antara saya dan Tuhan, dimana saya harus instropeksi diri dan bahkan mungkin mengambil keputusan gila bila saya pikir itu akan membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya juga harus melihat dan bertobat apabila X itu sekalipun itu hal baik, ternyata sudah saya jadikan “tuhan” dalam hidup saya.

Sayya bersyukur Tuhan saya yang Maha Mendengar itu berbicara kepada saya.

Saya bersyukur juga Tuhan saya yang Maha Pengasih itu mengingatkan saya bahwa Ia adalah Tuhan, dan X itu bukan.

Saya sungguh bersyukur ada hal-hal yang Tuhan utarakan kepada saya lewat jalan-Nya yang penuh misteri.

Dan itu artinya saya harus lebih sering lagi berkomunikasi 2 arah dengan Tuhan.

Agar saya lebih mengerti.

Agar saya lebih sensitif.

Agar saya dapat lebih mengasihi-Nya.

Iklan